Daihatsu di Indonesia sudah menjadi salah satu manufaktur raksasa di Indonesia. Tetapi Presdir PT Astra Daihatsu Motor Sudirman MR belum puas, masih ada mimpinya yang belum tercapai. “Kami ke depan punya visi untuk mengembangkan R and D (Riset dan pengembangan) di Indonesia. Sehingga Indonesia punya kebanggaan, ADM, Insya Allah akan melangkah ke sana,” ujarnya di Jakarta. ADM lanjutnya sudah mengirim tenaga kerja untuk belajar ke Jepang, mereka di sana selama 1-2 tahun mempelajari produk. “Bukan hanya engineering, tetapi juga marketing, dan produksi, kami kirimkan ke sana, sehingga kami akan masuk ke R and D ini. Kami harapkan merek yang lain juga akan sama-sama punya R and D di Indonesia,” harapnya. Sudirman mengakui dalam desain produk, orang Jepang masih berperan sampai 80 persen, padahal mobil-mobil Daihatsu merupakan mobil yang sangat dedicated untuk pasar Indonesia. “Jadi secara kemampuan ADM manufaktur kendaraan ini yang terbesar di Indonesia, kualitas dunia, produk hanya di Indonesia, bagaimana developmentnya, ya kita harus pikirkan R and D ini,” ujarnya. Bagi Sudirman, tidak ada lagi yang bisa membuat dirinya bangga ketika pabrikan mobil di Indonesia sudah bisa membuat mobil dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) mencapai 100 persen. Mobil Daihatsu seperti Gran Max, Xenia, dan Terios memiliki TKDN sekitar 78-85 persen. “Kami di Daihatsu ingin 100 persen TKDN. Kenapa masih ada 15 persen? Karena itu belum bisa diproduksi dalam negeri, kenapa belum bisa, secara skala ekonomi belum masuk, kalau dipaksakan (harga mobil jadi mahal,” ujarnya. Kandungan 15 Persen itu sisanya diambil dari negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia dan Filipina. Jepang pun berkontribusi. Ke depan Sudirman berharap 100 persen mobil Daihatsu bisa diproduksi di sini. “Itu mimpi saya,” ujarnya.